Minggu, 17 Mei 2015

SELAMAT SIANG PEJUANG!


Menilik terang pagi, hati selalu menggelisahkan banyak pertanyaan, “Karya apa yang mau kita buat hari ini Tria? Akankah hari ini lebih baik dari hari kemarin Tria? Progres apa yang akan kita ciptakan untuk peningkatan kualitas hidup Tria?” dan keseluruhan dari rentetan pertanyaan itu harus di jawab jika tak mau meyesal ketika evaluasi malam. Iya, sejatinya hidup senantiasa di beri tuntutan. Ada deadline yang harus diselesaikan setiap harinya, deadline untuk negara, deadline untuk keluarga, untuk organisasi, untuk kuliah hingga untuk diri sendiri.

Dalam lingkungan sehari-hari, kita akan menemukan banyak sekali perbedaan. Ada lingkungan yang memaksa kita senantiasa berfikir masalah, masalah bangsa, masalah negara, masalah kepemimpinan, masalah sentimen sara, hingga masalah negara lain. Ada lingkungan yang dituntut bicara solusi, “kalau udah tau masalah pendidikan seperti itu, lo mau apa? Mau protes doang?” dan di tangan anak-anak muda kreatif masalah pendidikan di balik dengan jawaban “sekolah alam bengawan solo” yang tahun ini diapresiasi tingkat wirausaha muda mandiri. “Kalau udah tau masalah negara ini adalah ketidakmerataan beasiswa, terus lo mau keluh kesah doang?” dan akhirnya di jawab sama temen-temen jeneysis, pemburu beasiswa, sahabat beasiswa dengan mendistribusikan informasi beasiswa yang ternyata buanyak banget. “Ketika masalah bangsa ini adalah kemiskinan, terus lo mau teriak-teriak bantu orang miskin please?” itu semua di balik jadi perpaduan kolaborasi yang sangat baik oleh mahasiswa untuk mengangkat drajat orang miskin, marginal, terpinggirkan dengan pemberdayaan seperti Dreamdelion, Kitabisa, Sahabat Pulau, Flohope, Nalacity, dan lain-lain menjadi suatu aktivitas masyarakat yang produktif.

Dunia ini sudah sesak dengan orang yang berkeluh kesah, aku pun sanggup sehari semalam berkeluh kesah tak habis-habis dan tak karuan, sungguh jika hanya berkeluh kesah pun aku bisa, semua juga bisa. Kita butuh generasi yang gelisah, yang kemudian dari kegelisahan ia melakukan banyak hal, bukan berhenti meneriakan keluh kesah kemudian hilang. Trial and learning, mencoba sesuatu kemudian belajar, mencoba yang lain dan menjadi lebih banya belajar, dan terus mencoba hingga akhirnya tau, “mencari solusi yang tepat, tidak semudah ketika berkeluh kesah tak berdampak”.

Aku ingin berkisah sayang, sedikit kisah tentang bagaimana sulitnya berjuang walau targetnya hanya 9 masjid. Atau satu rumah dengan isinya mental disorder, atau satu desa dengan pendidikan tertinggal, atau satu keluarga dengan keadaan tidak menerima anaknya schizophrenia. Sudah sejak Oktober 2014, aku dan teman-teman mendirikan usaha Lova Laundry. Hingga hari ini, 6 bulan berlalu, kita semua masih belajar. Belajar bagaimana mengantarkan laundryan tepat waktu, memberikan pelayanan jasa terbaik, memastikan pakaian di cuci dengan bersih dan kembali dalam keadaan wangi, memberikan pelayanan terbaik untuk fasilitas laundry gratis alat ibadah, hingga belajar pembukuan company yang baik dan benar. Dan subhanallah! Rasanya luar biasa. Senikmat-nikmatnya pelajar adalah kesempatan belajar. Visi misinya sederhana, Lova Laundry bisa menjadi bisnis sosial yang suistanable development dengan target sasaran, memastikan seluruh masjid kampus bisa laundry gratis dengan keadaan mukena dan sarung yang membuat setiap insan beribadah untuk Allah-nya merasa nyaman. Namun misi sesederhana itu saja, jika diimplementasikan tak semudah ketika kita protes “kenapa pengurus masjid di sini ga memperhatikan kebersihan? Mukena bau dan apek. Bener-bener ga mutu.”

Begitu juga ketika kita berusaha untuk memastikan bahwa kita mampu mewujudkan pendidikan berkualitas dan merata di seluruh Indonesia. Sampailah aku ketika mengajar di Sumatera, Entikong Kalimantan, Polman Sulbar, Banda Aceh, bahwa pendidikan yang kita desain dan konsep di kota itu ga sesuai dengan kebutuhan anak-anak disini. Mereka tak butuh Layar besar dengan proyektor canggih di kelas, mereka hanya butuh jendela karena muatan kelasnya melebihi bangku yang disediakan, dan di desa mereka tidak ada listrik jika siang. Mereka juga tak butuh kurikulum berbahasa inggris dengan standar internasional, mereka hanya butuh guru pengajar yang datang setiap hari ke sekolah dengan senyum sumringah. Iya, ternyata untuk mewujudkan hal terkecil dari pendidikan berkualitas, juga tak semudah ketika kita berkeluh kesah dan protes menuntut pendidikan harus a,b,c tapi tak meluangkan waktu barang sejenak untuk turun ke lapangan langsung dan melihat bagaimana pendidikan sebener-benarnya di jalan.

Begitu juga ketika kita berikrar, ingin memudahkan dan mengangkat kehidupan orang-orang dengan gangguan jiwa. Sungguh banyak sekali rintangan, kendala, hingga proses panjang untuk bisa menciptakan kebermanfaatan dan dampak nyata bagi mereka.

Namun secara keseluruhan, aku bersyukur dengan kemurahan Allah memberi semangat dari banyak arah. Memberi kesempatan belajar baik disadari maupun tidak disadari. Memberi tahu “siapa kawan siapa teman yang menikam belakang”. Semua bisa kita pelajari jika kita mau berproses. Mencari keuntungan besar dengan tidak mengelak jika resikonya juga besar.

Aku bersyukur sudah tergabung di beberapa forum nasional sejak awal kuliah, yang ketika kami dikumpulkan, kami selalu di tuntut berfikir solusi yang akan direkomendasikan dan syukur-syukur bisa diimplementasikan di daerah masing-masing. Aku juga bersyukur, sejak awal kuliah sudah di ajak presiden BEM bertemu dengan banyak tokoh, mendiskusikan problem negara ini dengan pemain langsung di perpolitikan negeri ini, yang membuat aku berfikir terbuka bahwa masalah Indonesia tak bisa diselesaikan dengan sempitnya wawasan. Aku juga bersyukur lahir dari keluarga dengan ekonomi yang seadanya, yang membuat aku berada dilingkaran dengan senyata-nyatanya kemiskinan. Aku bersyukur jika hari ini aku bisa membantu memudahkan urusan teman perkara skripsi dari jaringan yang aku miliki. Sudahlah, bersyukur adalah cara termanis menikmati seluruh perjalanan hidup. “Mau disyukuri atau tidak, hidup sudah ditakdirkan sedemikian rupa. Siapa yang bersyukur akan ku tambah nikmatnya, siapa yang kufur maka siksa Allah sungguh perih” –begitu tulisan nabila keponakanku di dinding kamarnya.


Sekali lagi, tak perlu difikirkan berlebihan soal pandangan orang lain, mengingat orang hanya melihat hasilnya bukan prosesnya. Kita yang menjalani prosesnya dan kita yang bisa menikmati hikmahnya. Selamat siang pejuang, selamat melanjutkan perjuangan sekalipun tanpa tepuk tangan, Allah maha tahu perkara kebaikan hambanya! :”)

Rabu, 13 Mei 2015

SELAMAT PAGI TOKYO!

"Di suatu pagi, kamu bisa menjumpai matahari yang terbit dari negara lain, jika kamu memperjuangkan mimpi itu dengan penuh keyakinan diri"

Malam ini aku terhempas di kursi bandara Haneda lantai paling atas. Aku begitu bahagia bisa sampai di Tokyo, yang dulu hanya kudapati di buku-buku yang aku baca atau mengintip dari foto-foto yang beredar di internet. Seraya tak percaya, aku benar-benar sampai di Tokyo, yang katanya kota termahal di dunia. Ku lihat kedua temanku tertidur pulas di atas kursi bandara, lelah setelah sepanjang siang di pesawat dari Kuala Lumpur menuju Haneda. Ada dua anak IPB yang tak mau melewatkan malam, berjalan keliling bandara sambil mengabadikan gambar dengan wajah ceria.





Ku dapati pagi yang aku impikan, pagi di negeri orang, pagi di kota Tokyo, pagi penuh kebahagiaan. Aku masih d bandara Haneda, bandara yang kukagumi kebersihannya, keramahannya, hingga keamanannya. Rasanya aku tak ingin melewatkan barang sejenak untuk sekedar mengizinkan mata terpejam, kota ini membuatku terperanjat dalam peraduan kebahagiaan. Aku belum melihat kota, aku baru melihat bandara. Tapi sungguh, aku sudah sangat bahagia!

aku tak sabar ingin segera berlari ke luar. melihat Tokyo di peraduan pagi.

Sampailah kami pukul tujuh pagi, setelah berkemas kami melanjutkan perjalanan ke bandara Narita. Berbekal peta dan bahasa inggris seadanya untuk modal bertanya, agak lega karena ada dua anak laki-laki IPB yang membersamai untuk acara yang sama. Kami naik kereta dan melewati pagi di kota Tokyo dengan bahagia yang membuncah. Aaaaa!!!! Selamat pagi Tokyo, dengan bangunan yang berderet seraya menyapa selamat datang "Tria", aku tak membiarkan mata ini mengalihkan pandangannya dari jendela kereta. Jalanan tertata rapi, tak tampak satu pun perumahan kumuh seperti pemandangan KRL di Jakarta. Semuanya serba bersih dan terlihat berbahagia, seperti hati iniyang sedang lelompatan girang, membayangkan bisa bertemu toto chan, yang sekolah di gerbong kereta.

Ini kali pertama aku keluar dari bandara Haneda, naik kereta di Jepang dengan sistem yang luar biasa membuatku bingung sebagai pendatang, bukan karena sistemnya buruk tapi karena adaptasiku yang begitu lama. Jepang kota yang teramat ramah dengan pendatang. Begitu banyak peta, tempat bertanya, hingga petunjuk sampai wifi yang disediakan Cuma-Cuma untuk turis yang datang. Ahhh! The truly Asia!

Kereta benar-benar datang tepat waktu. Berhenti tak geser barang sesenti dari tempat yang seharusnya. Baru masuk di kereta, ada anak perempuan Jepang yang usianya sebaya menyapa “Selamat Pagi” sambil terenyum dengan pipi kemerah-merahan karena cuaca dingin yang memang di suhu satu digit. Sontak kami bahagia, akhirnya ada yang bisa bahasa Indonesia. Ternyata perempuan itu mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Singapore yang memiliki rumah di Pondok Indah Jakarta. Kini sedang pulang, bersama keluarganya. Ia turun lebih dahulu, sebelum aku turun di bandara Narita.



Aku terpukau. Pohon saja tumbuh dengan teramat tertata. Keretanya bersih, mereka benar-benar tak bicara jika bukan hal yang penting atau dengan orang yang mereka kenal. Mereka asik dengan bukunya, aku dan yang lain asik dengan kamera. Tak ingin ada satu momentum yang terlewat dari perjalanan kami di Jepang.

Tak nampak satu pun kemacetan, tak nampak kekacauan, semuanya benar-benar di tempat yang tepat dan berjalan dengan cepat. Orang di jepang terbiasa dengan ketepatan waktu, kedisiplinan yang aku acungi jempol. Aku benar-benar membuktikan bahwa mereka benar-benar mengantri rapi menunggu kereta datang, layaknya prajurit tanpa komando  mereka mematuhi aturan. Sekalipun kereta penuh mereka tetap tertib. Mereka seraya siaga di segala kondisi, Padahal di Jepang jumlah kereta sangat banyak dengan beragam jenis dan sistem yang mebuat klasifikasi harga berbeda-beda di setiap tujuana. Manusia tumpah ruah di stasiun. Jalanan lenggang, tanpa kemacetan. Menggunakan pasmo card, aku naik Jr Line. Mereka mengantri dengan rapi, mulai dari anak kecil hingga lansia. Satu kata, kereeen!



Sebelum sampai di bandara Narita, aku akan mundur ke belakang. Mengisahkan bagaimana perjuangan kami untuk bisa sampai di negeri matahari terbit ini. Perjuangan kami bisa menikmati pagi di Tokyo ini. Perjuangan kami yang benar-benar mengantarkan kami bisa sampai di negara ini.

Tak ada perjuangan yang sia-sia. Ibu mengajarkan aku “Hidup susah harus di latih, hidup kaya dan bahagia ga perlu latihan. Ibu gatau kedepannya nasib kamu gimana, jadi mulai dari sekarang harus terbiasa hidup susah” kata-kata itu nyantol di kepala sampe sekarang. Visionernya seorang ibu menyiapkan anaknya siap di segala kondisi dan situasi. Sebulan yang lalu, pagi kami tak seperti kota ini. Hanya dalam waktu sebulan kami harus menyiapkan semuanya, akan kami list:
  1. Melengkapi riset kami, tentunya berbahasa inggris dengan standar yang telah di tetapkan panitia.
  2. Membuat proposal dan mencari tahu bagaimana kehidupan di Jepang agar kami ada gambaran untuk membuat intenary (road map perjalanan hidup kami selama di Jepang)
  3. Mencari contoh proposal dari teman yang sudah pernah ke Jepang sebelumnya.
  4. Mengurus surat pendanaan dari kampus
  5. Mengurus surat perjalanan ke luar negeri dari sekneg.
  6. Mengurus surat tugas untuk mendapatkan dispensasi tidak kuliah.
  7. Mencari sponsor
  8. Membuat paspor dan visa
  9. Mencari dana untuk membeli tiket
  10. Menyiapkan uang Rp. 45.000.000 untuk kebutuhan kami berempat selama dua pekan hidup di dua negara, Jepang dan Malaysia.

Dan itu rasanya sangat menguras tenaga, ketika pagi datang, kami sudah bersiap mengirim proposal, mengurus banyak hal, mondar mandir berkali-kali revisi memahami cara kerja birokrasi, subuh-subuh sudah ke imigrasi, sampai jam dua pagi masih rapat pencarian dana. Sungguh, setiap hari kami berdoa, semoga dalam sebulan seluruh list kerumitan itu menuai jalan keluar dan Jepang menjadi jawaban.

Seperti tak percaya, H-10 kami belum juga memiliki uang untuk berangkat ke negeri ini, paspor belum jadi, visa masih tahap harap-harap cemas, aku masih sibuk lomba di Palembang dan hari ini kami benar-benar sampai di Tokyo. 18 Maret, kaki kami benar-benar sampai di Tokyo. Di bagian yang lain kami akan menceritakan bagaimana Rp. 45.000.000 kami dapatkan di H-6 hari. Kami juga akan menceritakan, bagaimana perjuangan keluargaku mengganti KTP dan Kartu Keluargaku karena ada kesalahan yang membuat permohonan paspor ku di tolak. Cerita hari ini cukup sampai matahari Tokyo menyapa kami. Menyapa mimpi yang hampir kami lupakan. Menyapa relung hati, “Sungguh, janji Tuhanmu yang manakah yang engkau ragukan”. Selamat pagi Tokyo, selamat pagi ibu, biar saja ibu tak berijazah sekolah dasar, yang penting anaknya bercita-cita besar. Peluk sayang dari Tokyo pagi ini. –Tria


Semangat Berjalan,
Tria, Imaf, Widia, Rizqa, Andi, Anit
Hisas Jepang

Sepotong Episode

*Kisah Fajrin / Volunteer Griya Schziofren / FMIPA UNS
Dunia ini masih seluas yang kita impikan dan banyak hal yang harus kita ketahui dan terkadang kita diminta untuk mengenalnya lebih dalam agar “mengerti” apa maksud dari semua itu. Kita masih ada banyak waktu untuk mencari dan menambah pengalaman unutk menelajahi dunia yang begitu fana ini. Berjalan di sekeliling alam, sepanjang perjalanan aku mengenang sebuah kisah masa lalu yang sedang bercengkrama di benakku tepat ketika aku melihat keindahan-keindahan yang muncul di sektarku.
 Inilah sepotong episode ku di masa kini dengan sahabat-sahabatku. Episode sejarah yang membuat ku ingin merasakan bahagia dengan merubah pilihan langkah  di hidup ku tentunya bersama sahabat-sahabatku di Griya Schizofren. Di setiap sudut itu menyibak kisah tentang orang- orang yang belum dimanusiakan oleh manusia yaitu ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa). Saat mendengar kisah salah satu mereka yang katanya ODGJ, cerota-cerita itu seraya tak pernah hilang dari ingatan. Aku bersama sahabat-sahabatku  mencari cahaya terang, dari potongan-potongan episode masa  lalu yang kerap di ceritakan oleh warga disana, yang kami sapa dengan sebutan princess Hayu. Aku merasa hidup teramat kejam hingga akhirnya membuat princess Hayu mengalami ganguan secara kejiwaan. 
Banyak hal yang kupelajari dari kisah hidup yang diutarakan oleh princess Hayu dimana kita harus berjuang mengahadapi hidup, harus  semangat menjalani semuanya karena Allah selalu mengabulkan do’a-do’a orang yang teraniaya. Dari sanalah aku mendapat pengalaman hidup yang sebenarnya. Ya, dari komunitas Griya Scizofrenlah aku mempelajari banyak hal. Mulai dari pengalaman hidup, menghargai waktu, hingga hal yang kerap kali terlupakan yakni peduli dengan sesama. Awal mula tahu komunitas Griya Scizofren yaitu dari sahabatku, Arum, dia mengajak teman-temanku di fisika  dan dia sangat antusias dalam hal seperti itu, padahal kita dari mahasiswa sains. Dari kebosanan mengeluti dunia sains aku mencoba untuk ikut komunitas dan  dengan mengikuti banyak kumunitas kita tahu dimana letak passion kita.
 Setelah aku mengikuti Griya Schizofren, aku tidak hanya tahu tentang sosial tapi juga mengenal banyak orang-orang hebat, kita yang ikut volunteer Griya Schizofren juga diberikan bekal untuk menambah pengalaman kita dengan bertemu orang-orang hebat. Griya schizofren didirikan oleh Triana Rahmawati, itulah  nama yang sangat terkenal dikalangan atas. Pertama kali bertemu dengan mbak Tria sungguh sangat hebat orang ini, dia seorang mahasiswa yang masih peduli dengan ODGJ dan dari situlah aku mengerti tentang Griya Scizofren setelah di jelaskan oleh mbak Tria. Di Griya Schizofren kita menjadi volunteer tidak hanya diajari tentang bersosial tapi volunteer Griya Schizofren juga diajak ikut lomba oleh mbak Tria. Dia ingin kita sebagai volunteer tidak hanya tahu tentanng sosial tapi juga tahu bagaimana untuk mengembangkan Griya Schizofren menjadi lebih maju dan lebih baik lagi agar orang tahu ada orang yang harus di manusiakan dan ada orang yang butuh sebagian dari kebahagian kita.
Mbak Tria sering bilang bahwa sodahkoh tidak hanya dengan uang, tapi  dengan meluangkan sedikit waktu kita untuk orang-orang  yang membutuhkan kita. Itu juga namanya sodakoh. Pas banget bagi mahasiswa yang tidak punya banyak uang tapi ingin bersodakoh haha. Tapi sadokoh waktu jangan di salah gunakan. Aku dan sahabat- sahabatku sangat terinpirasi dengan adanya komunitas ini. Banyak kisah inpiratif yang diajarkan dari mereka yang terpinggirkan karena dianggap bermasalah dengan kejiwaannya. Aku dan volunteer lainnya sangat berhati-hati dalam melangkah karena masih banyak hal yang belum kami tahu.
Saat peertama kali aku ke Griya Peduli PMI, sejujurnya aku takut karena kita langsung bertatap muka dengan warga di Griya. Aku tidak masuk  ke dalam, karena ada rasa takut untuk berinteraksi langsung dengan mereka. Aku terharu melihat mereka. Mereka ada di bangsal, tampak sangat menyedihkan jika membayangkan “bagaimana jika aku yang ada di posisi mereka?”. Namun lama kelamaan kami menjadi terbiasa, akhirnya aku berani memutuskan untuk ikut masuk dan mencoba langsung ikut berinterksi langsung dengan mereka. Ternyata seru! Seru ketika kita berani mengalhkan ketakutan kita sendiri. Di dalam bangsal niat kami menghibur, tapi ternyata kami yang terhibur. Kami bisa tertawa lepas, bernyanyi, menari hingga bercandaan yang tak pernah bisa kita dapati di tempat lain.
Nah lebih menarik lagi ternyata di situ juga ada terapi membuat kerajinan tangan  yaitu membuat bross dari kain perca. Jujur saja aku sendiri tidak bisa membuatnya dan aku yang di ajari oleh mereka. Mereka kece banget! Dan hasil dari kerjinan itu di jual ke pembeli. Banyak yang bertanya itu dari mana, yang buat sispa, gimana caranya, dan mereka kaget, tidak menyangka, ketika kami mengisahkan siapa yang membuat karya ini semua. WOW keren mereka bisa!
Bu Endang adalah orang yang mendampingi mereka dan mengajari kami.  Banyak dari kita maupun masyakarat lainnya takut dengan mereka, banyak juga yang memandang rendah meraka, sungguh sangat menyakitkan padahal mereka hidup terasing dan terpinggir.  Dari cerita mereka, mereka ingin bertemu dengan keluarga, berkumpul dengan anak-anaknya, merindu dengan ibu nya. Mereka ingin pulang. Bahkan mereka kerap mengaji jika mereka merindu. Di griya ini banyak manusia yang harus di manusiakan. Dan kita sebagai manusia, sudah sepantasnya memanusiakan manusia.
 Singkat cerita tak perlu kau simpan rasa kepedulian mu terhadap orang-orang yang membutuhkan kepedulianmu, sedekahkan sedikit waktumu untuk orang-orang yang menginginkan waktu luangmu. Entah itu keluargamu, sahabatmu, atau orang-orang di sekitarmu. Jalan hidup ini tak selamanya indah. Ada suka, ada duka. Jalani semua apa yang kita rasa dengan keikhlasan dan mengaharap ridho-Nya. Kita pasti bisa karena semuanya akan kembali kepada yang menciptakan kita. Setiap langkah kita dan setiap perbuatan kita akan mendapatkan catatan, kisah dan kenangan tersendiri bagi kita.
Inilah sepotong episodeku di Griya Schizofren bersama sahabat-sahabatku yang membuatku ingin selalu mengenangnya. Jadilah orang yang bermanfaat bagi orang lain!

Semangat Bermanfaat!
Fajrin Rawasiyyah

Volunteer Griya Schizofren

Selasa, 12 Mei 2015

NIKMATI IMAN SEBELUM NIKMATNYA HILANG

*Kisah Esti (Volunteer Griya Schizofren)
Griya Schizofren? Apa sih itu? Menyebutnya aja sudah susah, pasti isinya orang-orang susah. Awalnya aku menganggapnya begitu, tapi setelah tau griyanya, Subhanallah, spechless! Kemarin adalah waktu pertama kalinya aku berkunjung kesana. Sudah di ajak beberapa kali, tapi hatiku belum tergerak. Griya Schizofren merupakan komunitas yang mengabdikan waktunya di Griya PMI Peduli Solo. Griya PMI Peduli Solo adalah lembaga yang mengasuh orang-orang dengan gangguan jiwa atau mental disorder dalam bahasa kedokteran, tanpa biaya dan di rawat dengan sangat baik. Banyak yang di ambil dari jalanan, atau yang di masukkan keluarganya karena kurang mempu untuk membawa ke rumah sakit jiwa. 

Yap, aku tau tentang Griya Schizofren dari Mbak Tria, salah satu aktivis di UNS yang menjadi founder Griya Schizofren. Pertama kali bertemu di aula Fakultas Hukum, saat itu dia menjadi MC di salah satu acara BEM UNS. Aku sangat mengingat waktu itu, karena aku di tunjuk dan di suruh memberi tanggapan tentang acaranya. Sedikit sebel sih, tapi itu yang membuatku teringat. Aku semakin mengenalnya saat dia mengisi di acara maganger Humas HIMAFIS. Dia mengisi dengan tema Public Speaking. Nah dari situ terjalin kerja sama. Dia mengajak anak-anak fisika untuk ke Griya Schizofren.

Tawaran pertama berkunjung ke griya tak menggugah hatiku, karena malas, ada kumpul HIMAFIS atau voli. Tapi setelah beberapa kali ajakan aku abaikan, aku melihat teman-teman ku yang sudah berkunjung menjadi iri. Iri karena aku yang sudah bergabung lama, tapi belum sempat datang ke griya, sedangkan mereka yang baru bergabung saja sudah datang ke griya. Oke, kemarin saya putuskan untuk berkunjung ke griya. Acaranya membuat bros bersama Ibu Muji. Ibu Muji adalah orang disabilitas. Kemana-mana harus memakai kursi roda. Saat datang, aku dan temanku di sambut oleh beberapa relawan griya. Mereka datng lebih awal dari aku. Setelah ku parkirkan motorku, ku datangi teman relawan lainnya. Di ujung penglihatanku terlihat seorang wanita dengan kerudung besar sedang berbicara dengan relawan.

"Aku udah mandi loh, tapi keliatan belum mandi ya? Yaudah aku mau menyuapi Mbah *lupa namanya* "

Aku sedikit berfikir, setelah melihat gelagat temannku, aku tau dia adalah warga Griya PMI yang sedang di rawat disini. Aku akui tidak bisa membedakan antara pasien, dan karyawan. Setelah beberapa menit kita menunggu datang lah Ibu Muji. Salut dengan semangatnya mau membantu orang dengan gangguan jiwa padahal dia sendiri disabilitas. Setelah beliau datang, kami masuk ke ruang kegiatan. Disana kami di ajari membuat bros. Tak lama warga Griya PMI lainnya datang untuk membuat bross sebagai terapi mengisi waku senggangnya. Sedikit kaget, mereka tak terlihat sedang mengalami gangguan jiwa. Banyak dari mereka yang tidak mempunyai rambut. Katanya mereka tidak bisa merawat rambut, dan banyak kutunya. Maka dari itu mereka di potong cepak. Saat kami belajar membuat bros, mereka membuat sama seperti kami.

Ada salah satu pasien bernama Hayu, tapi maunya di panggil Princes Hayu. Princes di luar, tidak ikut membuat bros. Dia berbincang-bincang dengan teman kami yang laki-laki. Setelah itu dia menyanyi untuk kami. Suaranya lumayan lah untuk menghibur kami. Setelah beberapa jam kami membuat, tiba saatnya sholat dhuhur. Kami pun berhenti dan mengambil wudhu untuk sholat. Aku masuk ke mushola bersama temanku dan Princes.

"Di mushola adem ya, soalnya banyak malaikat disini. Ada malaikat Rakib dan Atit *sambil memegang pundak kanan dan pundak kiriku* , trus di belakang ada malaikat pelindung dan di hati kita ada Allah." Begitu ucapnya.

Mendengar perkataan princes , hatiku teriris. Aku merasa sedih, hampir ku teteskan air mata. Kami sholat di imami oleh Princes. Aku tak tau sholatku sah atau tidak, niatku untuk beribadah. Saat sholat, hatiku merasa berbeda, mataku sudah berkaca-kaca. Tak tau kenapa sholat itu terasa syahdu. Rasanya ingin ku teteskan air mata, tapi aku tak bisa. Sudah lama aku tak mengalami seperti itu. Setelah sholat, kami pun kembali ke ruang kegiatan. Princes punya buku diary, ku pinjamnya dan ku baca. Oke, aku sangat salut dengan nya. Di diarynya banyak tulisan bahasa inggris. Dia menceritakan kerinduannya pada suaminya. Yang membuatku tercengang, ada arti ayat Al-Quran. Dia bercerita kalau semalam bangun jam 1 lalu membaca Al-Quran lalu menuis artinya di diary. Subhanallah, aku yang katanya sehat, waras tak pernah menulis arti ayat-ayat Allah. 

Setelah itu ku putuskan untuk pulang. Kami berpamitan dengan Ibu Muji dan juga Princes. Tak lupa aku membawa pulang bros yang sudah kami buat, tetapi dengan sedikit uang. Hari itu aku menjadi sangat mensyukuri nikmat sehat, waras, keluarga, teman, adalah nikmat Allah yang diberikan kepadaku. Masih banyak orang diluar sana yang membutuhkan ururan tanganku. Aku mulai sadar, apalah arti IPK, uang banyak, teman gaul dan yang lainya. Karna sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain.

Semoga tulisan ku bisa membuat banyak orang tersadar akan adanya dunia luar yang butuh uluran tangan kita dengan ikhlas. 

Selamat Malam! 1 Maret 2015.
#GriyaSchizofren

Esti Nurani