Rabu, 13 Mei 2015

Sepotong Episode

*Kisah Fajrin / Volunteer Griya Schziofren / FMIPA UNS
Dunia ini masih seluas yang kita impikan dan banyak hal yang harus kita ketahui dan terkadang kita diminta untuk mengenalnya lebih dalam agar “mengerti” apa maksud dari semua itu. Kita masih ada banyak waktu untuk mencari dan menambah pengalaman unutk menelajahi dunia yang begitu fana ini. Berjalan di sekeliling alam, sepanjang perjalanan aku mengenang sebuah kisah masa lalu yang sedang bercengkrama di benakku tepat ketika aku melihat keindahan-keindahan yang muncul di sektarku.
 Inilah sepotong episode ku di masa kini dengan sahabat-sahabatku. Episode sejarah yang membuat ku ingin merasakan bahagia dengan merubah pilihan langkah  di hidup ku tentunya bersama sahabat-sahabatku di Griya Schizofren. Di setiap sudut itu menyibak kisah tentang orang- orang yang belum dimanusiakan oleh manusia yaitu ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa). Saat mendengar kisah salah satu mereka yang katanya ODGJ, cerota-cerita itu seraya tak pernah hilang dari ingatan. Aku bersama sahabat-sahabatku  mencari cahaya terang, dari potongan-potongan episode masa  lalu yang kerap di ceritakan oleh warga disana, yang kami sapa dengan sebutan princess Hayu. Aku merasa hidup teramat kejam hingga akhirnya membuat princess Hayu mengalami ganguan secara kejiwaan. 
Banyak hal yang kupelajari dari kisah hidup yang diutarakan oleh princess Hayu dimana kita harus berjuang mengahadapi hidup, harus  semangat menjalani semuanya karena Allah selalu mengabulkan do’a-do’a orang yang teraniaya. Dari sanalah aku mendapat pengalaman hidup yang sebenarnya. Ya, dari komunitas Griya Scizofrenlah aku mempelajari banyak hal. Mulai dari pengalaman hidup, menghargai waktu, hingga hal yang kerap kali terlupakan yakni peduli dengan sesama. Awal mula tahu komunitas Griya Scizofren yaitu dari sahabatku, Arum, dia mengajak teman-temanku di fisika  dan dia sangat antusias dalam hal seperti itu, padahal kita dari mahasiswa sains. Dari kebosanan mengeluti dunia sains aku mencoba untuk ikut komunitas dan  dengan mengikuti banyak kumunitas kita tahu dimana letak passion kita.
 Setelah aku mengikuti Griya Schizofren, aku tidak hanya tahu tentang sosial tapi juga mengenal banyak orang-orang hebat, kita yang ikut volunteer Griya Schizofren juga diberikan bekal untuk menambah pengalaman kita dengan bertemu orang-orang hebat. Griya schizofren didirikan oleh Triana Rahmawati, itulah  nama yang sangat terkenal dikalangan atas. Pertama kali bertemu dengan mbak Tria sungguh sangat hebat orang ini, dia seorang mahasiswa yang masih peduli dengan ODGJ dan dari situlah aku mengerti tentang Griya Scizofren setelah di jelaskan oleh mbak Tria. Di Griya Schizofren kita menjadi volunteer tidak hanya diajari tentang bersosial tapi volunteer Griya Schizofren juga diajak ikut lomba oleh mbak Tria. Dia ingin kita sebagai volunteer tidak hanya tahu tentanng sosial tapi juga tahu bagaimana untuk mengembangkan Griya Schizofren menjadi lebih maju dan lebih baik lagi agar orang tahu ada orang yang harus di manusiakan dan ada orang yang butuh sebagian dari kebahagian kita.
Mbak Tria sering bilang bahwa sodahkoh tidak hanya dengan uang, tapi  dengan meluangkan sedikit waktu kita untuk orang-orang  yang membutuhkan kita. Itu juga namanya sodakoh. Pas banget bagi mahasiswa yang tidak punya banyak uang tapi ingin bersodakoh haha. Tapi sadokoh waktu jangan di salah gunakan. Aku dan sahabat- sahabatku sangat terinpirasi dengan adanya komunitas ini. Banyak kisah inpiratif yang diajarkan dari mereka yang terpinggirkan karena dianggap bermasalah dengan kejiwaannya. Aku dan volunteer lainnya sangat berhati-hati dalam melangkah karena masih banyak hal yang belum kami tahu.
Saat peertama kali aku ke Griya Peduli PMI, sejujurnya aku takut karena kita langsung bertatap muka dengan warga di Griya. Aku tidak masuk  ke dalam, karena ada rasa takut untuk berinteraksi langsung dengan mereka. Aku terharu melihat mereka. Mereka ada di bangsal, tampak sangat menyedihkan jika membayangkan “bagaimana jika aku yang ada di posisi mereka?”. Namun lama kelamaan kami menjadi terbiasa, akhirnya aku berani memutuskan untuk ikut masuk dan mencoba langsung ikut berinterksi langsung dengan mereka. Ternyata seru! Seru ketika kita berani mengalhkan ketakutan kita sendiri. Di dalam bangsal niat kami menghibur, tapi ternyata kami yang terhibur. Kami bisa tertawa lepas, bernyanyi, menari hingga bercandaan yang tak pernah bisa kita dapati di tempat lain.
Nah lebih menarik lagi ternyata di situ juga ada terapi membuat kerajinan tangan  yaitu membuat bross dari kain perca. Jujur saja aku sendiri tidak bisa membuatnya dan aku yang di ajari oleh mereka. Mereka kece banget! Dan hasil dari kerjinan itu di jual ke pembeli. Banyak yang bertanya itu dari mana, yang buat sispa, gimana caranya, dan mereka kaget, tidak menyangka, ketika kami mengisahkan siapa yang membuat karya ini semua. WOW keren mereka bisa!
Bu Endang adalah orang yang mendampingi mereka dan mengajari kami.  Banyak dari kita maupun masyakarat lainnya takut dengan mereka, banyak juga yang memandang rendah meraka, sungguh sangat menyakitkan padahal mereka hidup terasing dan terpinggir.  Dari cerita mereka, mereka ingin bertemu dengan keluarga, berkumpul dengan anak-anaknya, merindu dengan ibu nya. Mereka ingin pulang. Bahkan mereka kerap mengaji jika mereka merindu. Di griya ini banyak manusia yang harus di manusiakan. Dan kita sebagai manusia, sudah sepantasnya memanusiakan manusia.
 Singkat cerita tak perlu kau simpan rasa kepedulian mu terhadap orang-orang yang membutuhkan kepedulianmu, sedekahkan sedikit waktumu untuk orang-orang yang menginginkan waktu luangmu. Entah itu keluargamu, sahabatmu, atau orang-orang di sekitarmu. Jalan hidup ini tak selamanya indah. Ada suka, ada duka. Jalani semua apa yang kita rasa dengan keikhlasan dan mengaharap ridho-Nya. Kita pasti bisa karena semuanya akan kembali kepada yang menciptakan kita. Setiap langkah kita dan setiap perbuatan kita akan mendapatkan catatan, kisah dan kenangan tersendiri bagi kita.
Inilah sepotong episodeku di Griya Schizofren bersama sahabat-sahabatku yang membuatku ingin selalu mengenangnya. Jadilah orang yang bermanfaat bagi orang lain!

Semangat Bermanfaat!
Fajrin Rawasiyyah

Volunteer Griya Schizofren

Selasa, 12 Mei 2015

NIKMATI IMAN SEBELUM NIKMATNYA HILANG

*Kisah Esti (Volunteer Griya Schizofren)
Griya Schizofren? Apa sih itu? Menyebutnya aja sudah susah, pasti isinya orang-orang susah. Awalnya aku menganggapnya begitu, tapi setelah tau griyanya, Subhanallah, spechless! Kemarin adalah waktu pertama kalinya aku berkunjung kesana. Sudah di ajak beberapa kali, tapi hatiku belum tergerak. Griya Schizofren merupakan komunitas yang mengabdikan waktunya di Griya PMI Peduli Solo. Griya PMI Peduli Solo adalah lembaga yang mengasuh orang-orang dengan gangguan jiwa atau mental disorder dalam bahasa kedokteran, tanpa biaya dan di rawat dengan sangat baik. Banyak yang di ambil dari jalanan, atau yang di masukkan keluarganya karena kurang mempu untuk membawa ke rumah sakit jiwa. 

Yap, aku tau tentang Griya Schizofren dari Mbak Tria, salah satu aktivis di UNS yang menjadi founder Griya Schizofren. Pertama kali bertemu di aula Fakultas Hukum, saat itu dia menjadi MC di salah satu acara BEM UNS. Aku sangat mengingat waktu itu, karena aku di tunjuk dan di suruh memberi tanggapan tentang acaranya. Sedikit sebel sih, tapi itu yang membuatku teringat. Aku semakin mengenalnya saat dia mengisi di acara maganger Humas HIMAFIS. Dia mengisi dengan tema Public Speaking. Nah dari situ terjalin kerja sama. Dia mengajak anak-anak fisika untuk ke Griya Schizofren.

Tawaran pertama berkunjung ke griya tak menggugah hatiku, karena malas, ada kumpul HIMAFIS atau voli. Tapi setelah beberapa kali ajakan aku abaikan, aku melihat teman-teman ku yang sudah berkunjung menjadi iri. Iri karena aku yang sudah bergabung lama, tapi belum sempat datang ke griya, sedangkan mereka yang baru bergabung saja sudah datang ke griya. Oke, kemarin saya putuskan untuk berkunjung ke griya. Acaranya membuat bros bersama Ibu Muji. Ibu Muji adalah orang disabilitas. Kemana-mana harus memakai kursi roda. Saat datang, aku dan temanku di sambut oleh beberapa relawan griya. Mereka datng lebih awal dari aku. Setelah ku parkirkan motorku, ku datangi teman relawan lainnya. Di ujung penglihatanku terlihat seorang wanita dengan kerudung besar sedang berbicara dengan relawan.

"Aku udah mandi loh, tapi keliatan belum mandi ya? Yaudah aku mau menyuapi Mbah *lupa namanya* "

Aku sedikit berfikir, setelah melihat gelagat temannku, aku tau dia adalah warga Griya PMI yang sedang di rawat disini. Aku akui tidak bisa membedakan antara pasien, dan karyawan. Setelah beberapa menit kita menunggu datang lah Ibu Muji. Salut dengan semangatnya mau membantu orang dengan gangguan jiwa padahal dia sendiri disabilitas. Setelah beliau datang, kami masuk ke ruang kegiatan. Disana kami di ajari membuat bros. Tak lama warga Griya PMI lainnya datang untuk membuat bross sebagai terapi mengisi waku senggangnya. Sedikit kaget, mereka tak terlihat sedang mengalami gangguan jiwa. Banyak dari mereka yang tidak mempunyai rambut. Katanya mereka tidak bisa merawat rambut, dan banyak kutunya. Maka dari itu mereka di potong cepak. Saat kami belajar membuat bros, mereka membuat sama seperti kami.

Ada salah satu pasien bernama Hayu, tapi maunya di panggil Princes Hayu. Princes di luar, tidak ikut membuat bros. Dia berbincang-bincang dengan teman kami yang laki-laki. Setelah itu dia menyanyi untuk kami. Suaranya lumayan lah untuk menghibur kami. Setelah beberapa jam kami membuat, tiba saatnya sholat dhuhur. Kami pun berhenti dan mengambil wudhu untuk sholat. Aku masuk ke mushola bersama temanku dan Princes.

"Di mushola adem ya, soalnya banyak malaikat disini. Ada malaikat Rakib dan Atit *sambil memegang pundak kanan dan pundak kiriku* , trus di belakang ada malaikat pelindung dan di hati kita ada Allah." Begitu ucapnya.

Mendengar perkataan princes , hatiku teriris. Aku merasa sedih, hampir ku teteskan air mata. Kami sholat di imami oleh Princes. Aku tak tau sholatku sah atau tidak, niatku untuk beribadah. Saat sholat, hatiku merasa berbeda, mataku sudah berkaca-kaca. Tak tau kenapa sholat itu terasa syahdu. Rasanya ingin ku teteskan air mata, tapi aku tak bisa. Sudah lama aku tak mengalami seperti itu. Setelah sholat, kami pun kembali ke ruang kegiatan. Princes punya buku diary, ku pinjamnya dan ku baca. Oke, aku sangat salut dengan nya. Di diarynya banyak tulisan bahasa inggris. Dia menceritakan kerinduannya pada suaminya. Yang membuatku tercengang, ada arti ayat Al-Quran. Dia bercerita kalau semalam bangun jam 1 lalu membaca Al-Quran lalu menuis artinya di diary. Subhanallah, aku yang katanya sehat, waras tak pernah menulis arti ayat-ayat Allah. 

Setelah itu ku putuskan untuk pulang. Kami berpamitan dengan Ibu Muji dan juga Princes. Tak lupa aku membawa pulang bros yang sudah kami buat, tetapi dengan sedikit uang. Hari itu aku menjadi sangat mensyukuri nikmat sehat, waras, keluarga, teman, adalah nikmat Allah yang diberikan kepadaku. Masih banyak orang diluar sana yang membutuhkan ururan tanganku. Aku mulai sadar, apalah arti IPK, uang banyak, teman gaul dan yang lainya. Karna sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain.

Semoga tulisan ku bisa membuat banyak orang tersadar akan adanya dunia luar yang butuh uluran tangan kita dengan ikhlas. 

Selamat Malam! 1 Maret 2015.
#GriyaSchizofren

Esti Nurani

Jumat, 08 Mei 2015

BUMI SRIWIJAYA DALAM BINGKAI TEMNAS BAKTI NUSA

Selamat sore, satu tulisan untuk menikmati seruput kopi menjelang senja mu hari ini. 5 Mei 2015.

TEMU NASIONAL NEGARAWAN MUDA
Sejujurnya aku teramat bahagia berada di tempat ini. Bersama dengan orang-orang terbaik dengan kerendahan hati yang lebih baik daripada di tempat lain. Ada ketua Gamais ITB, Ketua dan Wakil ketua BEM UI, Ada penghafal Al-Quran, ada yang sudah menjajakan kaki di berbagai negara, ada pula yang sudah keliling Indonesia dengan beragam karyanya. Mereka semua terhimpun dalam keluarga besar Beasiswa Aktivis Nusantara (Bakti Nusa) angkatan ke-4 dan ke-5. Di bumi sriwijaya, selatannya sumatera, aku merebahkan badan yang lelah di kamar 208 wisma atlet Jakabaring. Aku bahagia!

Masih terngiang jelas, bagaimana rasa lelah ada di setiap sela-sela sendi. Semalam aku masih berkumpul bersama kluarga besar Forum Indonesia Muda, mereka menungguku membereskan barang hingga pagi, jam 4 aku sudah di bandara Soekarno-Hatta dan jam tujuh aku sudah mendarat selamat di Bandara Sultan Mahmud Baharuddin Palembang. Tekhnologi membawa kita dengan kecepatannya, tapi rasa lelah karena mata yang belum terpejam benar-benar menggangguku hari ini. Mengikuti materi Bu Marwah Daud mengenai bagaimana cara aktivis merencanakan masa depannya agar lebih well organized. Aku hanya sanggup ikut hingga pukul 14.30 dan kemudian aku terlelap hingga pukul 17.00. Aku benar-benar tidak sanggup, tubuh menuntut rehat barang sejenak.

Ohya, akhirnya Bakti Nusa bisa kumpul full team berikut fasilitator. Bakti Nusa 4 dengan 7 orang didalmnya dan Bakti Nusa 5 dengan 9 orang anggotanya. Kita memanfaatkan kebersamaan ini dengan foto studio. Dan hasilnya! Sangat membahagiakan. Membayangkan kelak sepuluh tahun lagi, kita bisa melihat keberhasilannya bukan hanya dalam album foto tapi juga dalam liputan yang ditayangkan oleh studio televisi.



Bagiamana sih rasanya jika negarawan muda yang terhimpun akhirnya berkumpul? Maka akan aku ceritakan bagaimana perasaanku karena nikmat ini semua. Sekarang. Iya sekarang juga.

BERSYUKUR
Iya, rasa pertama yang muncul adalah bahagia dan bersyukur. Karena tidak semua orang memiliki lingkaran pertemanan yang sebaik ini. Semua yang ada disini sudah diseleksi dengan persyaratan dan kompetisi yang sangat ketat. Setelah terseleksi, kemudian kami disatukan menjadi satu keluarga oleh beastudi Indonesia Dompet Dhuafa. Bahasanya kami ditempa di lingkungan yang baik dengan irang-orang pilihan yang terbaik di kampusnya. Mau melebarkan jaringan wirausaha, ada! Mau meleberkan jaringan sosial, juga ada! Mau melebarkan sayap pilitik, juga ada! Tinggal kamu memilih ingin terbang dengan sayap yang mana. Kenapa kami bisa berkumpul? Karena ada umat islam yang membayarkan zakatnya, dan zakat itu di investasikan untuk meningkatkan kemampuan sumber daya manusianya agar mereka mampu menyebarluaskan kebermanfaatan bagi bangsa, negara dan agamanya. Iya, uang zakat. Sekali lagi, jangan maen-maen dengan kedahsyatan manfaat zakat. Ini baru sebagian kecil dari banyaknya kebermanfaatan yang didatangkan jika zakat dimanfaatkan dengan benar.

BERJUANG
Tapi dipertemukan kami di temu nasional ini bukan sekedar pertemuan, tapi semangatnya adalah menyatukan para pejuang. Sejatinya di daerahnya masing-masing mereka adalah para pejuang baik di ranah sosial, politik, agama, pemikiran hingga kewirausahaan. Kami dididik untuk berjuang, melipatgandakan kebermanfaatan dari uang zakat yang telah kami terima. Di titik ini semua para pejuang di kumpulkan, mereka merumuskan yang akhirnya menjadi deklarasi negarawan muda. Mengalahkan ego, menyatukan harapan, merapatkan barisan untuk melangkah jauh ke depan.

KELUARGA
Dan akhirnya kesimpulan untuk menutup temu nasional kali ini adalah keluarga. Sesungguhnya temnas ini bukan tanpa kekurangan, namun setiap keluarga pasti ada ruang-ruang yang senantiasa memaafkan. Mengikuti temnas ini bukan berarti tanpa keluhan, di tengah-tengah skripsi, jam tidur berantakan, banyak yang sakit karena kelelahan, bukan berarti temnas di tutup dengan cerita kekurangan. Di akhir temnas semua kekurangan di evaluasi, di rapatkan kembali, satu kampus dengan kampus yang lain saling memotivasi, berpartner dengan baik melalui outbond di alam terbuka dan kita berdiri tegak di monpera (monumen penderitaan rakyat) bumi sriwijaya. Kita tutup semua kisah temnas dengan satu kesimpulan besar, siapapun kita, apapun kekurangan dan kelebihan kita, bagaimanapun kita, kita datang bukan siapa-siapa, kita pulang menjadi keluarga. Kita datang berpencar-pencar, kita pulang dalam satu ikatan, keluarga negawaran muda. Terimakasih panitia, terimakasih Dompet Dhuafa dan beastudi Indonesia, terimakasih yang telah membayarkan zakatnya dan membuat saya memiliki kesempatan belajar selama setahun ini.



ALLAH :”)

Allah, desainer terbaik pakaian yang membuat kita nyaman dan bahagia. Sesungguhnya bulan April adalah bulan krisis bagiku, ada banyak hal yang harus diselesaikan dan semuanya berhubungan dengan finansial. Iya, aku benar-benar tidak lagi memiliki uang. Aku beranikan diri sms kakak untuk minta tambahan uang. Dan jawabannya adalah bener-bener ga punya uang. Uang di dompet ga ada barang selembar. “Sesungguhnya sabar itu di awal musibah.” Aku tutup handphoneku dan aku tidur, berharap bangun ada solusi untuk bayar ini itu ke teman. Malamnya, ada awarding untuk aktivis terbaik dan fasilitator terbaik. Namaku ada di antara ketiga nominasi. Hadiahnya adalah keliling nusantara dengan Kapal Pemuda Nusantara (KPN) Program Kemenpora. Dan siapa sangka, dalam harap dan doa, hadiah itu untuk Tria. Jika di ulang, hari ini aku benar-benar tak punya uang barang selembar, malamnya aku mendapat apresiasi sebagai aktivis terbaik dengan hadiah yang bahkan ditabung seumur hidup pun belum tentu kesampaian. Sungguh Allah maha pandai melebih-lebihkan kebahagiaan hambanya.  Entah doa dan kebaikan yang mana yang membuat kesempatan ini diberikan kepadaku, karena sejatinya tak ada doa yang sia-sia. Terimakasih untuk yang diam-diam telah mendoakanku. Biar Allah yang diam-diam mengabulkan doamu. 

Kamis, 07 Mei 2015

DIAM DISITU DAN TUNGGU AKU


Tak banyak aku berkisah perkara hati. Enggan berkisah, enggan berpisah. Mungkin terlalu banyak mengisahkan hati, membuat hati yang dikisahkan enggan datang atau malah ingin pulang jauh menghindar. Ahh bukan, bukan karena itu. Karena aku tak punya waktu untuk memperkarakan hatiku sendiri, aku larut dalam keasyikan masa mudaku, sungguh asyik menikmati kesibukanku. Bahkan orang tak sempat mengira aku juga punya hati untuk laki-laki.
Diam, dalam diam aku mengenang. Satu per satu aku teringat dan tenggelam. Aku menenggelamkan kenangan-kenangan itu, berharap aku akan segera sampai di pelaminan bersamamu. Ahh tak bisa, aku masih terikat beasiswa. Tak banyak aku berujar tentangmu ke semua orang, tak banyak aku mengatakan bagaimana pandanganku tentangmu. Aku mencoba diam, tetap berkarya dan kelak bisa berbagi cerita untuk anak-anak bahwa dulu aku mencintaimu dengan karya. Bukankah cinta tak perlu di umbar. Bungkam, dan teruslah berkarya untuk mewujudkan cinta yang sesungguh-sungguhnya cinta, cinta yang diperjuangkan, bukan cinta yang diumbar tanpa tujuan. Bukankah dengan karya kita memposisikan cinta pada posisi yang mulia, yang kelak dinantikan kisahnya oleh anak-anak kita, “Ayah ibu, untuk apa masa muda ayah dan ibu dihabiskan?” dan tak mungkin aku jawab dengan satu jawaban “Pacaran nak”.


Entah mengapa, kali ini aku ingin menulis bukan lagi tentang pergerakan atau kemenangan. Aku ingin menulis tentang yang ia, ia yang tak sempat aku sapa, ia yang tak sempat aku rasa, karena aku berusaha menjaga ia tetap dalam koridornya. Ahh hati-hati, jika kita bermain hati. Lebih baik sekarang, kamu siapkan barang-barangmu, bergegas untuk berangkat ke forum Indonesia Muda, temu nasional di palembang dan kembali  membawa cerita agar tak cengeng karena cinta. Diam di situ dan tunggu aku.

Rabu, 06 Mei 2015

GUSTI MBOTEN SARE, AYO BANGKIT RAME-RAME


*(Kegiatan Pedagang Pasar Klewer Pasca Kebakaran)

Malam ini, 7 Mei 2015, pedagang Pasar Klewer akan berkumpul. Pasca kebakaran, 1532 kios terbakar, mereka berjuang untuk mendapati hak nya agar bisa berdagang kembali. Dan akhirnya bulan kemarin pada 6 April 2015, peletakan batu pertama telah diresmikan dan pembangunan sudah dikerjakan dengan harapan bisa mengejar omset lebaran. Bulan depan sudah memasuki Ramdhan, harapan besar pedagang, mereka sudah bisa kembali berjualan di pasar darurat.

Malam ini akan dilakukan sosialisasi, pedagang kembali berkumpul dengan semangat “Gusti mboten sare, ayo bangkit rame-rame!” Mengepulkan semangat pedagang untuk tetap menyatukan asa, membangun masa depan.


Malam ini, pada Kamis 07 Mei 2015 di gedung MTA Surakarta, pukul 19.00 WIB, tepat di depan kraton Mangkunegaraan, kroscek pendataan kios masuk pasar darurat dan sistem keamanan di Pasar darurat akan dilakukan. Mengingat target pembukaan pasar darurat akan dilakukan bulan depan, maka persiapan-persiapan sebelum pasar darurat di buka harus dilakukan, dengan begitu selain memupuk persatuan dan kesatuan pedagang pasar tradisional, akan memupuk semangat para pedagang untuk berjualan kembali menyambut berkah ramadhan. Dengan kordinasi dan kosolidasi yang baik antar pedagang, para pengurus pedagang pasar Klewer (HPPK) berharap bisa mengurangi satu persatu permasalahan yang terjadi.

Tria
Team 20 Klewer /ACBI 

Minggu, 26 April 2015

POSKO KARYA (ANAK) BEM UNS

“Karena terkadang kita lebih mudah menghitung nikmat yang hilang ketimbang nikmat yang datang. Maka selezat-lezatnya nikmat adalah nikmat yang disyukuri” - Tria

SEBUAH AWALAN
Sedang heboh di media, dimana banyak netizen memberi kritik, saran hingga dukungan untuk berita pro kontra terkait pembukaan posko relawan yang akan menjemput Jokowi pulang ke Solo yang dianggap bubar jalan. Posko tersebut di buka baru pekan ini. Bagi saya, apa-apa yang sedang diperjuangkan BEM UNS niatannya baik, mengawal keberjalanan pemerintah, hanya saja terkadang jalannya yang berbeda-beda salah satunya dengan membuka posko relawan ini. Karena kalau melulu demonstrasi juga di anggap tidak konkret, maka ikhtiar mengkonkretkan pengawalan dilakukan, semoga yang mengemban amanah dikuatkan untuk mencapai tujuan didirikannya posko tersebut. Intinya “Kita boleh tersesat di jalan, tapi tidak boleh tersesat di Tujuan” Pesan penulis buku yang berjudul Teman Imaji karya ka Uti.

BERIKUTNYA
Banyak sekali yang menanyakan kepada saya, sebagai aktivis yang dibesarkan di BEM. BEM itu bisa berkarya apa sih selain demonstrasi? Maka saya akan menjawabnya dengan karya yang telah saya dan beberapa teman alami yang merupakan efek menjadi anak BEM. Badan Eksekutif Mahasiswa adalah organisasi pergerakan di bidang sosial dan politik. Organisasi intra kampus ini ada di lingkup universitas maupun di fakultas. Hikmah dari menjadi anak BEM bagi saya adalah memiliki banyak relasi, belajar open mind yang membuka cakrawala berfikir dan belajar memikirkan negara sedari muda. Sejujurnya jika dituliskan apa saja keuntungan menjadi anak BEM, rasanya tak tuntas barang sekertas.



Begitu banyak tuntutan sebagai mahasiswa, di tuntut pintar, mandiri, bermanfaat hingga bermartabat. Di tuntut pintar bisa di tempuh dengan belajar akademik dan ikut Himpunan Mahasiswa Jurusan (sosiologi). Di tuntut mandiri bisa dengan cara ikut kompetisi, menorehkan prestasi dan ikut seleksi beasiswa disana-sini. Di tuntut bermanfaat dan bermartabat bisa dengan ikut organisasi, BEM bisa menjadi pilihan untuk mengupgrade diri. Maka setiap kamu mengambil satu sks, kamu harus bertanggungjawab dengan 50 menit belajar di kelas, 50 menit menerapkannya di organisasi dan 50 menit melatih mental di kompetisi. Begitulah didikan Pak Drajat Tri Kartono kepada saya mahasiswanya. Dengan begitu kamu akan tetap menjadi aktivis yang berkualitas.

Ketika banyak yang mengatakan bahwa anak BEM ga ada prestasi, saya dan teman-teman mencoba membuktikannya dengan karya sebagai bukti nyata. Saya dan Rizqa memang hanya menjadi bawahan menteri, tapi prestasi tak mengenal posisi. Selama di BEM kami menjuarai dua kejuaraan lomba debat tingkat nasional. Eka yang menjadi wakil presiden BEM FMIPA juga membersamai kami dalam setiap kejuaraan. Saya, Alvian, Rizqa, Safira juga maju mewakili jurusan untuk seleksi mahasiswa berprestasi di fakultas kami masing-masing, dan kami berhasil masuk tiga besar mawapres  fakultas. Saya, eka, rizqa dan Tyar juga ikut dalam kompetisi ilmiah, Tyar di bidang arsitektur, kami bertiga di karya tulis ilmiah. Ahh itu kan tingkat nasional, apa anak BEM bisa menembus prestasi di tingkat internasional? Kami menjawab bisa! Saya, imaf, dan rizqa baru sebulan yang lalu pulang dari Jepang untuk mempresentasikan project sosial based riset kami di Universitas Hokkaido, Ka Siswandi Presiden BEM nya juga lolos kizuna project, dan masih banyak lagi. Alvian menjajaki tiga negara gratis juga karena prestasinya di mawapres. Namun membiacarakan kekurangan anak BEM jauh lebih menjual ketimbang prestasinya, seperti membicarakan kekurangan pemerintah jauh lebih mudah ketimbang mengingat prestasi dan pencapainnya. Padahal negara ini memiliki banyak pencapaian salah satunya lewat karya anak BEM di Indonesia.




POSKO KARYA BEM UNS
Sebagai anak BEM tentunya aksi dan demonstrasi bukanlah suatu alergi. Karena organisasi saya sosial politik, saya lebih berat pada sosialnya ketimbang politik. Bagi saya, biarkan yang lain berpolitik, biar saya yang bersosial. Dengan begitu kedua aspek BEM bisa dipenuhi tanpa harus memaksakan kesukaan dan pilihan seseorang. Saya juga pernah turun aksi, saya juga pernah orasi, tapi saya lebih menyukai orasi di panggung-panggung debat dan di masyarakat. Itulah mengapa, didikan orasi di BEM ketika demonstrasi bisa menjadi bekal ketika saya KKN, ketika saya turun di masyarakat, mengikuti lomba dan menjadi pembicara. Tak ada pelajaran yang sia-sia, tak ada jurusan kuliah tanpa lapangan pekerjaan dan tak ada pula kebaikan tanpa balasan dari Allah SWT. Dan teman-teman yang lain mengisi panggung-panggung demonstrasi dengan orasi kebanggannya. Keduanya tak merugikan negara, malah menjadi media pembelajaran tersendiri sebagai mahasiswa. Yang salah jika anak BEM hanya diidentikan dengan demonstrasi, tapi enggan mengakui prestasi dan pengabdian diri anak BEM di lain sisi.

“Tak mungkin dalam satu tahun kabinet berjalan, ada BEM yang sanggup setiap hari aksi.Mereka lebih banyak menghabiskan diri untuk bersosial, berjejaring, berprestasi dan sesekali aksi demonstrasi.” –Tria

TAK PERNAH MEYESAL
Jadi apapun pemberitaan BEM sekarang, saya dan teman-teman tak pernah menyesal pernah berada didalamnya. Wartawan tetap objektif, ketika kami berhasil menoreh karya, kami tetap dianggap juara. Dengan cara berkarya, kita bisa menunjukan taring organisasi, apalagi di forum-forum intelektual. Lantas untuk apa disesali, karena usaha yang besar senantiasa hadir dengan pencapaian yang tak bisa dibayar. Selamat berkarya BEM dimanapun di jagat raya ini, karena tak ada kisah kebaikan mengkhianati pemiliknya.

ALLAH MAHA BERLEBIHAN
Dan Allah senantiasa menjadi teman. Allah maha berlebihan. Apa-apa yang saya impikan, senantiasa diberi berlebih. Saya dulu hanya bermimpi bisa melihat tulisan saya masuk koran, tapi pekan ini sudah empat pemberitaan saya di berbagai koran dan kesemuanya selalu mencantumkan saya sebagai anak BEM. Ternyata sekalipun kamu tidak di BEM, BEM tetap melekat diplakat kehidupan. Allah mengabulkan impian melebihi apa yang dibayangkan. Ketika dulu bermimpi bisa masuk televisi, kini empat liputan saya sudah diterima produser NET TV untuk ditayangkan. Ketika saya bermimpi untuk menjadi penulis koran, Allah menjadikan saya penulis di tiga buku yang diterbitkan bahkan menjadi sosok untuk Joglosemar dan Rising star bagi Solopos. Sungguh, Allah maha pandai membuat hamlah doa banya bermimpi lebih tinggi dan melangkah lebih jauh. Selamat bermimpi sayang, karena mimpi adalah doa yang digenggam dalam sujud-sujud sepertiga malam.


“Karena bagi saya yang terpenting bukan lagi nama organisasinya, tapi organisasi yang mampu mebuat namanya bersejarah melalui didikannya” -Tria

Minggu, 19 April 2015

JIKALAU SAYA TIDAK MEMULAI

Bismillah,
Jikalau saya tidak pernah memulai, mungkin saya tidak akan pernah menuai. Jikalau saya tidak bersikeras untuk berbuat, maka tak akan banyak hal yang akan saya dapat. Jikalau saya hanya berani berandai, mungkin semuanya kini saya hanya bisa menikmati buai-buai. Karena sejatinya apa yang kita pilih, itu yang akan menentukan. Pertanyaannya, apa pilihanmu untuk langkah hidupmu?



Pergi jauh dari rumah, merantau di kota Solo. Hal yang selalu saya pertanyakan dalam benak adalah “apa yang bisa kamu berikan untuk kota ini”. Bagi saya, solo tidak hanya memberi ruang untuk hidup, tapi memberi ruang untuk saya tumbuh dan berkembang baik secara pemikiran, pembelajaran hingga ruang-ruang dimana nurani berkumpul dan mengepulkan rasa kemanusiaan.

Bagi saya, Solo membuai banyak hal. Kenyamanan dan keramahan kotanya membuat saya hidup dengan nyaman, membuai mimpi-mimpi saya untuk tumbuh tinggi mengalahkan tingginya tower paragon. Membuat saya berharap, semua kota seramah kota Solo ini. Namun siapa sangka, di balik keramah tamahan dan kenyamanan kota yang penuh dengan event budaya ini, ada sebuah panti penampungan milik PMI yang didalamnya ada orang-orang yang bekerja dan bergerak karena hati, untuk merawat dan menyayangi warganya. Siapa warganya? Yakni orang-orang yang dikatakan mengalami masalah kejiwaan atau mental disorder. Terpisah dari keluarga, merindu dengan anak dan suaminya, hingga bermimpi untuk bisa keluar seperti masyarakat pada umumnya menjadikan ruang-ruang di tempat ini sarat dengan perjuangan.

Jangan di kira, yang berjuang dalam hidup ini hanya mahasiswa atau pemerintah. Jangan mengira bahwa yang mengalami kesulitan dan beratnya himpitan hidup hanya kita seorang. Saudara-saudara kami di Griya PMI Peduli mengalami hal yang sama, mereka juga memiliki himpitan dan kesulitan dalam menapaki jalan hidup, tapi mereka masih memiliki mimpi yang mendorong mereka untuk keluar dari kesulitan dan mendapati hak mereka lagi yang lama hilang karena diasingkan.

Bicara soal kebermanfaatan, warga di Griya PMI Peduli jauh lebih mengajarkan banyak arti bermanfaat. Saling membantu dalam hal mencuci pakaian, mencuci alat makan, memasak untuk memberi makan saudaranya yang lain, membersihkan ruang mereka hingga saling menyemangati dengan tatapan kosong penuh makna. Sekalipun dalam hidupnya, ibu itu tak pernah bicara, namun dalam perbuatannya kita bisa memahami bahwa apa yang dilakukannya sarat akan makna.

Kasihan? Iya sejujurnya terkadang saya kasihan, mereka jauh dari keluarga bahkan hilang kontak dengan keluarga dalam waktu yang lama. Tapi terkadang saya yang mengkasihani diri saya sendiri, masih muda, sehat dan dikatapan penuh motivasi, belum bisa memberi banyak arti dan kebermanfaatan untuk orang lain. Hingga akhirnya saya sadar, mereka tak pantas dikatakan gila, mental disorder atau gangguan jiwa. Mereka adalah guru yang tak bertutur perkara ilmu, namun mengajarkan banyak cara untuk bisa memahami kata “bersyukur”. Mereka adalah orang-orang dengan kelebihan yang tidak disoroti, namun kekurangannya penuh caci. Sekali lagi, saya ingin mencaci mereka yang tak punya hati, yang tak bisa melihat bahwa mereka manusia yang sama, memiliki hati dan seperti hal nya kita, memiliki kekurangan dan kelebihan yang ingin di hargai.


“bukan telinga kita yang tuli, tapi nurani yang hilang yang akhirnya tak mampu lagi mendengar suara saudara kita sendiri” –Griya Schizofren